Rabu, 20 April 2011

Curhat Si Penimbun Buku

Satu cerita dalam The Fugitive Lawyer Makoto volume 4 mengisahkan tentang seorang gadis SMA bernama Nozomi yang meminta bantuan Makoto. Nozomi mengaku telah diperkosa oleh pacarnya dan ingin menuntut uang untuk aborsi.

[AWAS SPOILER bagi yang ingin membaca sendiri].

Singkat cerita, ternyata Nozomi adalah pelaku Enjokosai (prostitusi remaja yang biasa menemani om-om minum-minum dengan imbalan uang tapi tidak untuk hubungan intim, meskipun tidak tertutup kemungkinan untuk itu. Tujuan mereka adalah agar bisa membeli barang-barang bermerek). Yang menarik perhatian saya adalah salah satu adegan saat Nozomi memeluk barang-barang mahalnya sambil berkata,

“Biarlah. Asal ada ini aku sudah bahagia. Yang cocok denganku hanyalah barang-barang seperti ini”.

Nozomi memang ditampilkan sebagai anak tunggal dari kedua orangtua yang sibuk bekerja. Selama prestasi di sekolah baik-baik saja, orangtuanya menganggap semua baik-baik saja. Nozomi pun mengisi kekosongan kasih sayang tsb dengan barang-barang bermerek dan perhatian dari om-om senang yang "menganggapnya ada". Sedih ya, tidak dianggap "ada" oleh orang yang kita sayangi… :’(

.

Tadi sore saya kalap lagi di bagian obral toko buku langganan. Saat meraih buku memoir Chrisye yang ditulis oleh Alberthenie Endah, seharga dua puluh ribu saja, sesaat saya merasakan momen bahagia itu. Ya, bahagia saat belanja buku. Streotype wanita suka belanja mungkin ada benarnya. Bentuk barangnya saja yang berbeda-beda.

Bisa dipastikan saya hampir selalu kalap di area diskon buku, membeli buku-buku yang belum tentu segera saya baca. Itu, Sejarah Modern Turki - Erik J. Zurcher contohnya, sudah setahun nangkring manis di lemari. Malang sekali nasibnya hanya jadi pajangan. Lalu kenapa sekarang saya berani-beraninya mengakuisisi Mind Maps-nya Toni Buzan? Pongah!

Pembelaan; bukan pongah tapi investasi.

Sejujurnya; kebahagiaan membeli buku salah satu alasan bisa bertahan waras. Mengisi kekosongan dengan barang nih ceritanya? Ceileeehh.

Yang kadung terbeli biarlah tertumpuk. Mari mengunyah yang sudah ada sedikit demi sedikit. Mudah-mudahan bisa diserap otak yang (sepertinya, mudah-mudahan tidak) berkarat.

Ceileh lagi ah~

#susahserius

1 komentar:

  1. ah betul sekali, bahagia membeli buku adalah salah satu alasan bisa bertahan waras *peluk tako

    BalasHapus