Sabtu, 29 Januari 2011

Jodoh Buku

Wauw, tidak terasa sudah sampai di penghujung Januari. Lagi-lagi satu bulan berlalu tanpa adanya tulisan baru di blog ini. Tidak berarti satu bulan terlewati tanpa adanya buku yang dibaca. Cukup banyak malahan. Ada Riva The Explorer (Ferdiriva), Jurnalis Narsis, Kejarlah Daku Kau Ku Angkot (Boim Lebon), The Miracle Journey Of Peter Tulane (Kate DiCamillo), The Magician’s Elephant (Kate DiCamillo), Lotta (Astrid Lindgren), The (Un)Reality Show (Clara Ng), Skulduggery Pleasant: Bermain Api (Derek Landy).

Belum lagi dengan beberapa komik seperti Maison Ikkoku, Yotsuba, dan Katsu. Oh mereka adalah bacaan tetap di kala butuh hiburan. Atau beberapa cerpen Murakami dan Harry Potter #3 yang jadi teman makan. Tapi itu semua hanya berupa daftar yang akan mengabur lalu teronggok begitu saja di sudut ingatan. Akan perlu usaha cukup keras untuk memanggil mereka kembali. Suatu saat nanti, butuh waktu sekian menit untuk berpikir sejenak sebelum bisa menceritakan ulang apa bagaimana suasana hati saya saat dan setelah membacanya, apa saja kata-kata yang masuk ke dalam bank ingatan saya, atau sekedar siapa nama tokohnya.

Tidak bisa dipungkiri; mereka adalah buku bagus. Kate DiCamillo membuat saya terpana dengan pilihan gaya penceritaannya. Akhir cerita yang klise tapi tetap menyentuh, juga ilustrasi yang bagus. Ini yang saya sebut buku yang akhirnya berjodoh.

Sudah lama saya melihat The Magician’s Elephant di tumpukan buku tapi tidak tertarik bahkan untuk sekedar melihat ringkasan ceritanya. Perlu bertemu dengan The Miracle Journey of Peter Tulane dulu baru saya memutuskan untuk mengakuisisi semua buku Kate DiCamillo yang bisa saya temukan di kota ini. Impulsif, tapi nyatanya tidak mengecewakan. Saya senang membacanya.

Sesuatu yang saya sebut jodoh pula yang membuat saya tertarik pada sampul buku Skulduggery Pleasant si detektif tengkorak dengan gaya bicara sarkas itu. Saat itu saya memang sedang gandrung pada cerita sejenis. Ketika buku keduanya selesai diterjemahkan dan beredar di bulan Januari, saya tak sabar lagi. Walau nyatanyasaya tidak terlalu menikmati seperti buku pertamanya, saya akan tetap memasukkan seri ini ke daftar buku favorit. Kalau saja Skulduggery Pleasant baru terbit pertama kali tahun ini, mungkin saya tidak akan pernah menyukainya. Masa gandrung saya pada cerita jenis fiksi fantasi sudah lewat. Yang tertinggal hanyalah kesetian (agak buta) pada pengarang yang telah terlabeli favorit. Itu, adalah cara kerja jodoh versi saya, kawan; berdasarkan waktu dan tentu ada masa kadaluarsanya.

Gambar diambil dari sini.

0 komentar:

Poskan Komentar