Sabtu, 25 Desember 2010

Kisah Nyata Lagi, Angela's Ashes

Judul : Angela's Ashes
Penulis : Frank McCourt
Penerjemah : Meda Satria
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan ke II Januari 2010
ISBN : 978-602-8224-43-7
Harga : Rp 69.900,-

Siapa Frank McCourt? Saya tidak tahu. Kalau Angela's Ashes? Oh, itu buku yang sudah berbulan-bulan nangkring di tumpukan buku yang belum terbaca dan masih terbungkus rapi di dalam plastik. Saya coba mengingat-ingat kembali apa yang membuat saya dulu tertarik untuk membelinya. Padahal tanpa diskon lho (soal harga aja inget :D). Hm.. seperti biasa, cover dan sinopsisnya. Cover berwarna coklat dihiasi potongan adegan film yang didasarkan pada buku ini. Ditambah tulisan berikut;
KISAH NYATA tentang anak kecil yang bertahan hidup dalam kemiskinan, cuaca yang tak bersahabat, penyakit, kematian, dan kekuasaan pemuka agama untuk berjuang demi kehidupan yang lebih baik.
Kalimat ambisius provokatif di atas dan embel-embel peraih Pulitzer Prize, National Book Critics Circle Award, dan Royal Society of Literature Award yang ternyata bertanggungjawab atas pembelian impulsif saya saat itu. Setengah malas kemarin malam (24/12/2010 8 pm) saya mulai membacanya. Hasilnya? Liked it :)

Kamis, 23 Desember 2010

Buku Yang Mana? Ini Atau itu?


Sebagai orang yang belum punya duit meteran atau punya pohon uang yang kalau butuh tinggal dipetik tentu hobi mengoleksi buku harus disesuaikan dengan terbatasnya anggaran. Kadang kebablasan, tapi sejauh ini belum mengganggu kebutuhan utama. Belum. Tolong ditebalkan ya, BE-LUM.

Masalahnya, kadang pertarungan keinginan dan keterbatasan kemampuan berlangsung tidak adil. Saat ingin buku A, dananya sedang kurang. Di saat dana ada buku yang diinginkan habis. Akhirnya "terpaksa" membeli buku secara acak. Lagi-lagi sekedar memuaskan keinginan. Sayang rasanya kalau pulang tanpa menenteng buku.

Dalam memilih buku secara acak, setelah dipikir-pikir lagi, ternyata tidaklah seacak yang semula saya bayangkan. Ada pola tersendiri. Biasanya saya iseng mengacak-acak tumpukan buku. Mana yang covernya paling "menangkap mata", itulah yang saya ambil duluan. Baca sinopsisnya, tertarik, baca cepat bab-bab awal. Oleh karena itu adanya buku tester sangat membantu *serasa kue* :D


Kembali ke soal keterbatasan dana, saya sering harus memilih bukan hanya antara buku A dengan buku B tapi juga antara buku(-buku) dan keperluan sekunder lain. Contoh: saya membeli buku A maka saya akan mengurungkan membeli baju yang sedang diskon. Salah seorang penulis laris sudah pernah menyinggung hal ini. Persaingan (buku) itu justru bukan di antara satu industri (penerbitan), tapi dengan industri-industri lainnya. Pilih mana, beli buku seharga Rp 50.000,- atau baju/sepatu/sendal/makan di restoran cepat saji?

Pertarungan keinginan vs kebutuhan vs kemampuan akan berlangung abadi. Saya sering memenangkan keinginan. Yah, mudah-mudahan saja tak lama lagi saya punya pohon uang siap petik sehingga duit saya bisa sampai meteran. Amin, ya? ;)

____

Gambar dari sini

Selasa, 21 Desember 2010

Ini Bukan Blog Resensi!

Ah masa?
Ah iya dong.

Kenapa?
Jujur, saya tidak terlalu pede menyebut apa yang saya tulis sebagai resensi. Semua yang ada di sini cuma kesan-kesan terhadap buku yang sudah saya baca. Kadang malah diselingi curcolan aneh nan ga penting *tunjuk-tunjuk alamat blog*

Jadi?
Apalagi frekuensi tulisan yang tidak teratur dan format sesukanya. Sungguh konsisten dalam ketidakkonsistenan.

Lalu?
Ya... sebut saja ini blog hobi (yang kebetulan suka) baca dan pamer buku. Ambigu. Yaaaa... kalian tau lah maksudnya.

Teruuuussss?
Nggg.... udah. Segitu saja. *nyengir lebar*

Empat Musim Cinta

Judul :Empat Musim Cinta; tentang aku, kamu dan rasa
Penulis : Adhitya Mulya, Andi F. Yahya, Hotma Juniarti, Andi Fauziah Yahya, Okke 'Sepatumerah', Rizki Pandu Permana, S.A.z Al-Fansyour, Veronika Kusuma Wijayanti
Penerbit : GagasMedia
Harga : Rp 30.000,-


Promosi di twitter akan mengena bila dilancarkan oleh orang-orang yang tepat. Bagi saya tepat adalah orang-orang yang tulisannya saya sukai. Empat Musim Cinta adalah kali kedua saya "termakan" iklan di twitter. Yang pertama adalah Oksimoron. Sudah dibaca tapi belum dibahas di sini. Nanti ya.. *kedip-kedip ke neng tia* :D

Bertajuk "tentang aku, kamu dan rasa" buku ini berisi 16 cerita dari 8 penulis. Masing-masing penulis mendapat porsi 2 cerita. Yang paling saya sukai adalah cerita berjudul Pernah Jadi Aku? oleh Okke Sepatumerah. Ada pengalaman pribadi sih, hehe... Lalu ada Jalan Takdir oleh Hotma Juniarti. Alasannya tentu karena bertema ayah-anak perempuan.

Secara keseluruhan 14 cerita lainnya merangkum tema cinta dan pernak-perniknya. Ada (what-so-called) pengorbanan cinta, selingkuh, patah hati, pengkhianatan, cinta masa lalu, cinta sejati, dan cinta-cinta lainnya yang tidak terlalu saya mengerti tapi di beberapa bagian menimbulkan senyum. Namun untuk disebut musim cinta? Belum. Sepotong (atau beberapa potong) fragmen cinta mungkin ya? *sok tau* :D

Terakhir, saya benar-benar termakan iklan! Kalau bukan dipromosikan oleh penulis melalui akun twitternya mungkin buku ini akan saya lewatkan, bukan sengaja mencarinya saat di toko buku. Kebiasaan menilai buku dari covernya sudah berkarat, dan cover buku ini bagus tapi.. let's say i'm not into it. Cuma masalah selera saja.

Selera juga yang menempatkan buku ini sebagai it was ok di rak buku saya. Sekian. *ala bepe20* ;))



Selasa, 14 Desember 2010

The Last Emperor; Kisah Tragis Kaisar Terakhir China

Judul : The Last Emperor; Kisah Tragis Kaisar Terakhir China
Penulis : Henry Pu Yi direvisi oleh Paul Kramer
Penerjemah : Fahmi Yamani
Penerbit : Serambi
Harga : Rp 65.000,-


Autobiografi Henry Pu Yi ini ditulis oleh dirinya sendiri dan direvisi oleh Paul Kramer. Buku ini merangkum kehidupan Pu Yi dari masa pertumbuhannya di dalam Kota Terlarang, restorasi singkatnya, pengasingannya, sampai masa penahanan dan dibebaskan kembali. Lalu ada catatan singkat dari Paul Kramer di bagian akhir buku.

Awalnya saya kira gaya penceritaan akan seperti novel, tapi ternyata tidak. Cukup detil, tapi saya tidak terlalu memperhatikan detil karena pengetahuan saya tentang kekaisaran Manchuoko dan negeri itu sendiri sungguh cetek. Tapi tak perlu khawatir juga, awam sejarah seperti saya masih bisa menikmatinya. Sejarah seorang manusia "spesial" karena telah dipilih oleh langit terlalu dramatis untuk dilewatkan, apalagi diceritakan sendiri olehnya.