
Sebagai orang yang belum punya duit meteran atau punya pohon uang yang kalau butuh tinggal dipetik tentu hobi mengoleksi buku harus disesuaikan dengan terbatasnya anggaran. Kadang kebablasan, tapi sejauh ini belum mengganggu kebutuhan utama. Belum. Tolong ditebalkan ya, BE-LUM.
Masalahnya, kadang pertarungan keinginan dan keterbatasan kemampuan berlangsung tidak adil. Saat ingin buku A, dananya sedang kurang. Di saat dana ada buku yang diinginkan habis. Akhirnya "terpaksa" membeli buku secara acak. Lagi-lagi sekedar memuaskan keinginan. Sayang rasanya kalau pulang tanpa menenteng buku.
Dalam memilih buku secara acak, setelah dipikir-pikir lagi, ternyata tidaklah seacak yang semula saya bayangkan. Ada pola tersendiri. Biasanya saya iseng mengacak-acak tumpukan buku. Mana yang covernya paling "menangkap mata", itulah yang saya ambil duluan. Baca sinopsisnya, tertarik, baca cepat bab-bab awal. Oleh karena itu adanya buku tester sangat membantu *serasa kue* :D
Kembali ke soal keterbatasan dana, saya sering harus memilih bukan hanya antara buku A dengan buku B tapi juga antara buku(-buku) dan keperluan sekunder lain. Contoh: saya membeli buku A maka saya akan mengurungkan membeli baju yang sedang diskon. Salah seorang penulis laris sudah pernah menyinggung hal ini. Persaingan (buku) itu justru bukan di antara satu industri (penerbitan), tapi dengan industri-industri lainnya. Pilih mana, beli buku seharga Rp 50.000,- atau baju/sepatu/sendal/makan di restoran cepat saji?
Pertarungan keinginan vs kebutuhan vs kemampuan akan berlangung abadi. Saya sering memenangkan keinginan. Yah, mudah-mudahan saja tak lama lagi saya punya pohon uang siap petik sehingga duit saya bisa sampai meteran. Amin, ya? ;)
____
Gambar dari sini
amin!
BalasHapuspengalaman pribadi: teman saya heran saya beli buku padahal dia sendiri beli sepatu seharga dua buku :D
ngomong-ngomong, saya juga suka baca tester, apalagi kalo testernya buku fotografi yang alamakjang mahalnya...
nah.. itu gunanya buku tester. Yang baru-baru ini saya incar adalah buku Sejarah Sumatra. Bukunya mahal tapi kualitasnya sebanding. Ya isinya, ya kertasnya, ya ilustrasinya.
BalasHapusSelain buku fotografi, buku desain interior juga sangat memanjakan mata tapi berat di kantong :D