Bagaimana gaya membaca Anda? Berurutan dari halaman pertama sampai terakhir? Apakah membaca detil-detil buku? Kata pengantar? Atau malah gaya membaca lompat-lompat; 5 halaman awal, lanjut ke pertengahan buku lalu menclat ke lembar-lembar akhir buku, tamat?
Judul : Hanya Salju dan Pisau BatuPenulis : Happy Salma & Pidi Baiq
Penerbit : Qanita
Cetakan I, Sya'ban 1431 H/Juli 2010
Adalah buku berjudul Hanya Salju dan Pisau Batu yang menemani libur lebaran kemarin. Pembelian impulsif karena kadung ngefans pada penulisnya :D Ditambah beberapa teman yang sudah lebih dulu membaca menyebutkan buku ini "aneh". Rasa penasaran bertambah begitu membaca Kata Pengantar dari Hikmat Darmawan. Unik, terpisah dari buku, hanya berupa selembar kertas. Serasa membaca surat yang ditujukan khusus pada pembaca, meski bukan tulisan tangan sih :D
Pada pengantar Hikmat Darmawan mengajak pembaca untuk menikmati saja buku ini dengan cara masing-masing tanpa terlalu mengindahkan pakem genre buku. Kurang lebih begitu. Dan ya, setelah 4 buku Drunken memangnya saya masih peduli pada batas-batas tsb? Gila apa! :)) Maka dengan rasa penasaran dan sedikit antisipasi saya mulai membaca buku ini.
Benar saja, tak jelas apakah ini novel ataukah kumpulan cerpen. Entah horror, komedi, atau drama, meski labelnya menyebutkan fiksi humor. Baiklah. Saya setuju saja. Jelas ini fiksi. Tapi humor? Duh, saya malah menangis pada beberapa bagian (cerita yang berjudul "Bapak"), meringis saat membaca umpan balik dari pak Pidi atas cerita "Berteduh"-nya Happy Salma, dan malah ketawa garing saat membaca tulisan yang membahas cinta.
Kalau diibaratkan buku ini seperti lomba bersambut pantun yang selalu diadakan saat bulan Bahasa di SMA saya dulu. Lomba paling menarik dari rangkaian lomba yang ada. Paling menarik karena kami, para penonton (atau dalam buku ini selaku pembaca) deg-degan menanti kalimat apa yang akan keluar dari para peserta untuk kemudian tertawa riuh atas pantun yang menggelitik atau malah meledek habis-habisan atas kegaringan yang mereka buat.
Itu juga yang terjadi sepanjang membaca buku ini. Deg-degan, tapi tak sanggup melompati halaman karena pasti tersesat. Saya tak bisa jadi pembaca curang yang suka mengintip halaman terakhir lalu kehilangan minat baca. Tidak pada buku ini karena ia lebih curang daripada saya. Jadilah saya manut membaca halaman per halaman sampai usai. Setelah itu? Bingung. Ini buku bahas apa ya? Hahaha. Yang jelas ia jadi penghuni tetap tas saya, berjaga-jaga kalau saya perlu membunuh waktu.
Kesimpulannya? Saya jadi suka pada tulisan Happy Salma, dan kagum pada tulisan serius pak Pidi Baiq. Sekian.
@takodok iya buku Hanya Salju dan Pisau Batu, adalah buku seandainya saya sedikit menjurus serius. -pidibaiq-
0 komentar:
Poskan Komentar