Minggu, 11 Juli 2010

Kitab Omong Kosong

Ketertarikan pertama pada buku ini berawal dari sampulnya, lalu berlanjut ke nama penulis. Wow, Seno Gumira Ajidarma. Lihat judul, "Kitab Omong Kosong", hmmm.. sepertinya menarik. Lirik harga, eh, 25 ribu saja! Tanpa pikir panjang langsung saya beli bersama dengan "The Sisters Grimm, Petualangan Detektif Dongeng".

Ya, masih dalam rangka diskon di gramedia, tapi kali ini di Padang. Diskonan terus ya? Sebenarnya barang yang didiskon tidak seberapa. Berhubung gedung gramedia di jalan Damar itu masih dalam tahap perbaikan (bulan ke sekian) jadi sebagian stok buku diungsikan ke tenda luar. Harga normal, tapi peletakan seakan diskon *halah*. Jadi memang hanya beberapa item saja yang diskon, yang stok dan variasinya lebih sedikit daripada di Jambi. Oh, sudah pernah dibahas yak? :D



Saya awam terhadap kisah perwayangan dan hanya mengenal sedikit tokoh, sedikit cuplikan kisah, sehingga ketika membaca "Kitab Omong Kosong" ini seakan membaca cerita yang sama sekali baru. Saya mengenali beberapa bagian cerita; dibakarnya Sinta, Alengka, Rahwana, Hanoman. Tapi untuk latar belakang Persembahan Kuda, wah.. saya baru tau. Eh, tapi bisa jadi ini versi penulis sih.

Kisah Ramayana memang hanya dibahas di bagian pertama, Persembahan Kuda. Bagian ini seru. Bagian kedua, Perjalanan Maneka, membahas kehidupan para tokoh yang sebelumnya hanya figuran rakyat jelata yang terkena imbas Persembahan Kuda tadi. Berkisah tentang Satya yang desanya hancur lebur dan Maneka, pelacur yang memiliki rajah kuda, kuda yang menyebabkan bencana Persembahan Kuda. Karena rajah itu maneka harus menderita, melarikan diri, ditolong Satya yang akhirnya jatuh cinta pada Maneka. Berdua mereka berkelana mencari Walmiki untuk menggugat jalan hidup yang telah dilalui Maneka dan meminta kemerdekaannya. Menarik kan? Sedikit mengingatkan pada Ink Heart.

Nah, bagian ketiga, Kitab Omong Kosong, sedikit lebih berat. Diceritakan dalam pengembaraannya Satya dan Maneka secara "tak sengaja" bertemu Hanoman. Lalu Satya mau tak mau harus mempelajari Kitab Omong Kosong. Kitab ini dipisah 5 bagian, yang kesemuanya merupakan intisari pengetahuan dunia. Peradaban yang telah porak poranda akibat Persembahan Kuda butuh waktu 300 tahun untuk kembali seperti semula dan melajutkan perkembangannya. Mempelajari kitab ini bisa mengehemat waktu tsb. Tentu saja akhirnya kitab ini menjadi bahan pertentangan baru karena berbagai pihak, yang tak semuanya baik, menginginkannya dengan tujuan masing-masing. Tidak seseru dua bagian sebelumnya dan akhir cerita pun "cuma begitu saja". Bukannya saya protes lho, tapi seakan semua kesenangan sudah dihabiskan di awal. Mungkin memang beda selera saja ya ;)
.
.

Awam kisah perwayangan, baru kali ini membaca karya Seno Gumira Ajidarma; ternyata membaca buku dengan dua unsur di atas tidak sesusah yang saya bayangkan. Cukup menyenangkan malah :)

5 komentar:

  1. Ah, dari judulnya kayaknya bertopik berat.... :(

    BalasHapus
  2. Artikelmu asyik des, tapi males banget komen cara gini.. :(

    BalasHapus
  3. @asopusitemus
    beberapa bagian cukup berat memang, tapi kisah petualangannya seru kok :)

    @agenmossad
    ehehe, kekurangan blogspot memang di bagian komennya, tapi widget bisa dimacem2in.
    Niatnya sih cuma berbagi buku yang sudah dibaca dan jadi semacam tanggungjawab menyelesaikan bacaan.
    Kalo komen di post susah dan ada yang ingin ditanya bisa di shoutbox kan? :)

    BalasHapus
  4. Kitab yang sungguh teramat maknyus! Baca juga dong bukunya Seno Gumira yang baru: Nagabumi! Lagi nunggu lanjutannya nih, tapi belum-belum :(

    BalasHapus
  5. @drjt
    Nagabumi tebalnyooooo, hehehe.. Buku paling tebal yang pernah saya baca cuma Harry potter 7. Tapi jika suatu hari ada yang berminat meminjamkan ya mungkin baca juga akhirnya *mental gratisan* :))

    BalasHapus