Senin, 28 Juni 2010

Marmut Merah Jambu


13 bab yang mayoritas bercerita tentang cinta. Baru di buku ini saya melihat keterkaitan antara judul dengan isi buku. Penempatan bab yang pintar, langsung menangkap mata dan hati. Beberapa kisah pasti pernah dialami pembaca maka buku ini tak bisa saya lepaskan sebelum mencapai halaman terakhir; penasaran... apalagi yang ditawarkan penulis untuk dibagi?

Kisah cinta tak akan pernah habis untuk dibahas. Membosankan atau tidak, klise atau segar, tergantung kepiawaian si penulis. Gaya khas Raditya Dika sudah melegenda *halah*, dan saya cukup suka. Boleh dibilang buku ini sekarang salah satu favorit. Memang beberapa bagian penunjang kisah di setiap bab sudah pernah ditulis di blog atau twiternya si penulis yang kadang membuat saya berpikir; "aaaahhh... ini kan udah pernah ku baca dulu. Masa ini lagi sih?". Tapi ternyata tidak berlangsung lama karena memang telah dipoles sana-sini. Mungkin "bahan mentah" diletakkan di blog/twitter lalu diolah menjadi buku yang sedap.

Yang terasa mengganggu mungkin cuma cerita tentang Edgar. Lucu sih.. tapi mungkin (lagi) sudah saatnya berhenti mengeksploitasi Edgar. Atau nantinya akan ada kisah sepenuhnya tentang Edgar? Hidung siapa.

Terakhir, dan mungkin seperti banyak pembaca telah tanyakan.. apa si penulis tidak lelah selama 5 buku berkisah tentang hidupnya? Apa nantinya ia akan berganti jalur, fiksi fantasi misalnya? Hidung siapa. Lagi. :)

0 komentar:

Poskan Komentar